Langsung ke konten utama

Memiliki mu? Aku Bersyukur

Selamat pagi readers dan bloggers. Gimana kabar kalian semua? Semoga sehat selalu yaa hehe.
Hmm..
Sepertinya udah lama banget yaa aku gak nulis. Btw,kangen gak? Kangen dong biar aku rajin nulis nya hehe.
Sebelum aku mulai cerita panjang x lebar x tinggi,aku mau intro dulu nih. Jadi ceritanya,kemarin ada yang DM IG aku,mbak nya bilang kalau tulisan ku bagus dan dia tertarik membaca nya. Refleks aku ngerasa bangga dong (siapa coba yang gak senang di puji?). Lalu aku cerita ke pasangan aku dan pasangan aku mendukung aku untuk mulai nulis lagi (sebenarnya udah dari beberapa bulan lalu). Aku sempat bingung mau nulis apa karena emang belum dapat inspirasi. Nah,pasangan aku memberikan ide cemerlangnya untuk aku nulis tentang kehidupan pribadi aku di mulai dari aku merantau ke kampung orang (saat ini masih ku diami) sampai aku bekerja sekarang. Jujur aku sedikit malas kalau nulis tentang itu karena panjang banget,pegal tangan bok haha. Setelah melewati beberapa bulan purnama dan ku renungkan sematang mungkin,akhirnya muncul satu ide di otakku untuk menuliskan kisah asmara ku dengan dia hehe. Yaa pasti kalian mikir "idih apaan sih alay banget". Ok itu hak kalian untuk menilai seperti apa tapi please dibaca dulu yaa,dijamin menarik kok hehe. Kritik dan saran juga sangat dibutuhkan readers.


Berawal dari tulisan aku sebelumnya yang judulnya "Sepotong Luka yang Dalam".

Waktu itu kisah asmaraku tragis (bahkan banget) tapi aku gak akan bahas itu jadi di skip aja. Setelah aku ngalamin kisah tragis itu,berat badanku naik drastis. Loh kok bisa? Yaps,aku gak bisa namanya "STRESS". Kalau aku udah stress,nafsu makan ku meningkat dari biasanya. Aku ngalamin hal itu selama 2-3 bulan (kebayang dong seperti apa bentuk tubuh ku?). Karena aku udah terlalu over,seorang teman menegur ku "Lol,km gendutan ih. Coba timbang". Aku langsung gerak cepat untuk menuju timbangan dan benar berat ku naik hampir 10kg (what the hell !!!). Aku shock dan semakin frustasi. Sampai akhirnya temanku yang menegur tadi merekomendasikan salah satu obat diet yang emang mujarab banget (konsumsi 5hari turun 5kg). Karena emang udah niat buat nurunin,aku beli obat itu berbarengan dengan teh hijau dan mengkonsumsinya dengan semangat. Awal mula konsumsi,aku ngerasa tidak ada efek samping malah membuat aku merasa kenyang terus. Sampai pada hari ke-6,aku drop. Perutku terasa sakit,muka ku pucat dan  berkeringat dingin (posisi sedang kerja). Rekan sekerja yang melihat kondisi ku tidak memungkinkan,segera mengantarkan aku ke RS sepulang kerja. Dan yaa,aku di diagnosa "infeksi lambung". Aku diminta untuk di opname tapi aku menolak dengan alasan tidak ada yang menjaga (anak rantau). Setelah bernegoisasi dengan dokter,akhirnya aku di perbolehkan pulang namun dengan syarat: di infus terlebih dahulu. Mau tidak mau aku menerimanya (walau takut dengan jarum). Setelah infus selesai,aku di perbolehkan pulang dengan catatan menghabiskan resep obat yang diberikan. Mendengar berita tersebut,orangtua yang berada di kampung halaman tak henti-hentinya memantau kondisiku (orangtua mana sih yang bisa tenang kalau anaknya sakit?).


Sebulan masa pengobatan,aku mulai belajar membuka pintu hati yang ku tutup dengan paksa sebelumnya. Aku mendownload aplikasi pencarian jodoh (ngenes banget kan? haha).

Aplikasi pertama tidak membuahkan hasil. Aplikasi kedua membuahkan hasil. Aku berkenalan dengan dua pria tapi aku gak akan cerita soal mereka,jadi di skip lagi hehe.
Setelah beberapa kali mengalami kegagalan dalam membuka hati,aku mulai nyerah. Aku merasa aku emang gak pantas untuk di "kasihi". Sampai pada akhirnya,aku berkenalan dengan satu pria. Kami bertukaran nomor whatsapp dan mulai komunikasi. Saat dia memintaku untuk bertemu,aku sedikit ragu dan takut. Takut kalau dia tidak bisa menerimaku. Takut di kecewakan lagi. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang mendorong aku untuk mau bertemu dengannya.
Yaps,aku sudah bertemu dengannya. Mengobrol dengannya. Aku merasa dia lelaki yang asyik buat diajak ngobrol. Dan keesokan harinya dia masih menghubungi ku (dalam arti dia tertarik bukan?). Jujur aku merasa bahagia tapi tetap mengontrol perasaan agar tidak terlalu kecewa. Pertemuan kedua,ketiga dan akhirnya dia menyatakan perasaannya kepadaku. Jangan tanya bagaimana caranya dan dimana,karena kalian akan tertawa terbahak-bahak jika mengetahuinya.
Saat dia menyatakan perasaannya,aku shock. Kenapa? Karena kalimatnya terlalu berat readers  hehe. Dia memintaku tidak hanya sebagai pacar melainkan partner hidup (kebayang dong gimana ekspresiku). Aku diam sejenak sambil menahan malu sampai akhirnya aku meng'iya'kan.
Aku dan dia menjalani hubungan LDR. Dia bekerja di luar kota dimana jadwal kerjanya 3 bulan sekali baru bisa libur. Masa pendekatan ku dengan dia bisa di bilang singkat. Kenapa begitu? Karena waktu tidak mengijinkan. Saat aku bertemu dengannya,dia sedang liburan ke kota ini. Jarak aku dengan dia dapat di tempuh jalur darat (sekitar 12jam). Dua atau tiga hari menjalin kasih,dia terpaksa meninggalkan ku. Sebelumnya dia memberitahu ku bahwa dia akan selalu memberi kabar sesibuk apapun dan mencari signal untuk bisa berkomunikasi dengan ku (karena lokasi kerja dia di pedalaman). Aku memegang kata-katanya dan yaa dia membuktikannya. Oh ya,aku berkenalan dengannya di pertengahan bulan Juni 2019. Dia merasa bahagia mendapatkan aku (katanya) karena berkenalan denganku di bulan kelahirannya.
Saat dia sudah tiba di lokasi kerja,setiap hari dia memberi kabar kepadaku. Jika signal 4g tidak bisa (untuk vc),dia menghubungi ku dengan signal 3g (telvon biasa). Aku sangat menyayanginya. Dia memahami ku dan bisa mengimbangi karakterku. Kalau aku mulai kesal,dengan cepat dia merayuku dan meminta maaf agar mood ku kembali normal. Dia juga memanjakan ku. Belum ada sebulan menjalin kasih,dia membelikan sesuatu untukku. Jujur aku merasa tidak enak karena takut nanti di kira matre,tapi dia meyakinkan ku bahwa dia tidak berpikiran seperti itu.



"De,abang sayang dan cinta sama kamu. Abang mau hubungan kita bukan cuma sekedar pacaran. Abang mau kamu jadi pasangan abang".

Aku shock mendengar dia berkata seperti itu "maksud nya syg?"
"Iya,abang mau menikah sama kamu nantinya"
"Ah jangan bercanda"
"Abang serius"
"Kapan?" tanyaku menggoda
"Tahun depan. Cukup kan 1 tahun saja masa pengenalanya?"
Aku shock lagi dan menganggukan kepala sembari menahan malu.
"Pegang omongan abang yaa. Abang berkomitmen untuk menikahi kamu".
"Iyaa syg. Terimakasih".


Obrolan itu terucap sesaat setelah dia meninggalkan ku berkerja dan masih ku ingat hingga detik ini.

Aku dan dia emang sering bertengkar tapi tidak lama. Ada saja cara di buat olehnya agar bisa segera berbaikan dengan ku. Kalau bertengkar saat posisi aku lagi bekerja,dia segera mengirim pesan yang bisa menenangkan hatiku dan membuat aku tersenyum lagi. Dia gak mau aku kepikiran dan gak fokus bekerja. Hal itu yang membuat aku makin sayang dengannya hehe.
Pertengahan bulan September kemarin,dia pulang menghampiriku tanpa memberitahu terlebih dahulu (ceritanya surprise gitu). Malamnya aku bertemu dengannya. Menghabiskan malam berdua. Aku melepaskan rinduku dengan memeluknya se'erat' mungkin (ah rasanya tak ingin ku lepaskan sedetikpun). Dia menghujaniku dengan kecupan mesra. Membelai rambutku dengan lembut. Memandangiku dengan matanya yang indah. Ah aku semakin terjatuh,terjatuh ke dalam lubang cinta yang telah sengaja di gali nya.
"Tuhan,aku sangat mengasihi lelaki ini. Aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya" ucapku dalam hati sembari menikmati perlakuan dia yang hangat.
Belum puas melepaskan rindu,aku harus berpisah sementara lagi dengannya. Dia memiliki panggilan kerja di kota lain dan lokasinya sedikit lebih jauh dari sebelumnya. Aku tidak rela dan belum ingin berpisah lagi. Aku menangis selama beberapa hari. Dengan sabar,dia menenangkan ku dan memberi pengertian bahwa dia mengambil keputusan itu agar rencana dia (janji menikahiku) bisa terealisasi. Aku berusaha memahami dan menerima dengan ikhlas. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menangis lagi (karena aku gak mau dia mengkhawatirkan ku di sana). Perlahan aku bisa tertawa kembali,mencoba bersabar kembali menanti kepulangannya. Yaa,hingga detik ini aku masih menanti nya. Menanti dengan harapan kelak bisa di persatukan dengannya di altar gereja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepotong Luka yang Dalam

Malam readers. Gimana kabar kalian? Aku harap baik dan sehat selalu yaa hehe. Lama udah gak nulis nih. Dari kemarin ingin nulis sesuatu tapi bingung memulai darimana. Oke malam ini aku bakalan nulis sedikit pengalaman pribadi,baca sampai habis yaa guys. Kritik dan saran sangat-sangat dibutuhkan dalam setiap tulisanku. Jangan pernah bosan juga untuk membaca tulisan-tulisan ku yang jarang ini yaa :') Berawal dari tulisanku yang judul nya "Cinta lama belum kelar?" Setelah peristiwa itu,aku mengalami peristiwa yang dinamakan Putus Cinta. Yaps,you know lah gimana rasanya dan galaunya aku. Aku bahkan menyalahkan diriku sendiri dan bahkan gak bisa memaafkan. Setiap berhadapan dengan kaca dan melihat cerminan diriku dibaliknya,aku merasa marah dan bahkan jijik dengan diriku sendiri. Jangan tanya alasannya kenapa,karena yang akan aku bahas bukan itu. Beberapa bulan harus melewati fase-fase itu sampai suatu saat seorang teman menyarankan menggunakan salah satu aplikasi pencaria...

Sesal yang Tak Berarti

Selamat malam readers.. Bagaimana hari mu? Menyenangkan? Semoga jawabannya "iya". Well.. Aku ingin berbagi denganmu sedikit kisah nyata dari seseorang yang tidak ingin nama nya di publikasikan (takut jadi artis mendadak dia hahaha) dan tentu mendapat ijin share dari yang bersangkutan. Ok,kita mulai dari hari kamis lalu. Aku merasakan getaran yg begitu hebat di paha ku berkali-kali. Ingin sekali ku terima panggilan masuk tersebut,namun aku gak bisa (posisi sedang bekerja). Aku menunggu waktu yg tepat untuk melirik handphone ku yg sedari tadi tiada hentinya bergetar. Waktu tepat menunjukkan pukul 12.00. Saatnya makan siang. Aku langsung bergegas menuju pantry dan mengambil jatah makan siangku. Tak lupa juga aku segera mengambil handphone ku dengan rasa penasaran. Waw.. Ada 10 panggilan tak terjawab,5 pesan singkat dan 5 chattingan di sosmed. Itu semua dari 1 orang yang sama. Tidak biasanya dia mencariku sebegitunya. Aku langsung mendaratkan jemariku dilayar handphone dan ...

Harapan Terbodoh

Mengapa harus ada perbedaan? Apakah perbedaan itu di ciptakan agar saling melengkapi? Jika jawabannya "ya",mengapa masih banyak yang berselisih paham karena perbedaan tersebut? Mengapa banyak tetesan air mata dan bahkan darah yang mengucur akibat dari perbedaan tersebut? Lelah? Ya aku merasa lelah dengan semuanya. Ingin rasanya ku hentikan waktu sejenak,agar aku bisa bernafas lega dari kesesakan ini. Entahlah. Mungkin itu harapan terbodoh yang aku impikan.