Langsung ke konten utama

Sesal yang Tak Berarti

Selamat malam readers..
Bagaimana hari mu? Menyenangkan? Semoga jawabannya "iya". Well.. Aku ingin berbagi denganmu sedikit kisah nyata dari seseorang yang tidak ingin nama nya di publikasikan (takut jadi artis mendadak dia hahaha) dan tentu mendapat ijin share dari yang bersangkutan.
Ok,kita mulai dari hari kamis lalu. Aku merasakan getaran yg begitu hebat di paha ku berkali-kali. Ingin sekali ku terima panggilan masuk tersebut,namun aku gak bisa (posisi sedang bekerja). Aku menunggu waktu yg tepat untuk melirik handphone ku yg sedari tadi tiada hentinya bergetar.
Waktu tepat menunjukkan pukul 12.00. Saatnya makan siang.
Aku langsung bergegas menuju pantry dan mengambil jatah makan siangku. Tak lupa juga aku segera mengambil handphone ku dengan rasa penasaran.
Waw.. Ada 10 panggilan tak terjawab,5 pesan singkat dan 5 chattingan di sosmed. Itu semua dari 1 orang yang sama. Tidak biasanya dia mencariku sebegitunya.
Aku langsung mendaratkan jemariku dilayar handphone dan secepat mungkin mencari kontaknya dan menghubungi dia.
Nada tersambung! Dan seseorang dengan suara kukenal menjawab teleponku.

"Halo,kamu dimana? Lagi sibuk?"
"Iya. Maaf tadi gak angkat telepon mu"
"Iya tak apa. Jam brp kamu pulang ngantor?"
"Jam 5"
"Ok. Nanti malam aku ke tempat mu. Jangan tolak aku"
Telpon terputus dan seperti itulah sedikit pembicaraan aku dan dia.

Hari sudah sore dan matahari semakin memudarkan cahaya nya. Aku menunggu dengan cemas dan penuh rasa penasaran. Keringat dingin juga mulai menetes dari dahiku.

Tok tok tok..
Terdengar suara ketukan dari pintu kamar ku. Dengan sigap ku buka pintunya dan dia masuk ke dalam kamar ku.
Belum selesai ku kunci kembali pintu kamarku,aku mendengar suara tangisan,yang tak laindari dia. Aku kaget dan berusaha mendekatinya.

"Are u ok?" tanyaku kebingungan
"No!"
"What's happend? Come on tell me."
"Aku menyesal. Sungguh menyesal" jawabnya sambil menangis di pelukan ku
"Andai dulu semua tidak terjadi,pasti saat ini aku bahagia" sambungya
"Penyesalan memang selalu datang terlambat,kamu tidak perlu menyesalinya. Kamu yang dulu memilih jalan ini,maka kamu tidak boleh berhenti berjalan. Jika kamu berhenti atau berbalik arah,maka kamu akan semakin jauh dari tujuan mu. Semua jalan tidak ada yang mulus,pasti selalu ada resiko dan rintangan yang harus dihadapi" balasku menenangkan

Dia mengendurkan pelukannya dan menatap ku penuh tajam.  Aku sedikit takut melihatnya,takut dia membenci kata-kataku dan mungkin menusukku dengan pisau yg berada di dekat nya (ah apaan sih? dia sahabatmu,jangan parno deh).

Dia menghapus air mata yang banyak menetes di pipi nya. Yes! Aku mendapatkan kembali senyumannya. Senyuman tulus yang selalu keluar dari wajah manisnya.

"Kamu benar. Aku yg memilih jalan ini,maka aku tidak boleh berhenti apalagi berbalik arah. Terimakasih sudah mengingatkan ku" jawabnya

Aku memberikan senyuman terindahku kepadanya sebagai tanda rasa haru dan salutku untuknya kar'na dia ingin terus berjalan di jalan yg dipilihnya dulu.

Komentar

  1. True story?? gud ged gid bebebzz.. makin hari sampah nya terdaur ulang yeh..haha* tingkatkan nak!!!

    BalasHapus
  2. Hahaha terimakasih mba. Ini berkat dirimu yg sudah mengkontaminasikan hobby menyampah.. Hahaha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepotong Luka yang Dalam

Malam readers. Gimana kabar kalian? Aku harap baik dan sehat selalu yaa hehe. Lama udah gak nulis nih. Dari kemarin ingin nulis sesuatu tapi bingung memulai darimana. Oke malam ini aku bakalan nulis sedikit pengalaman pribadi,baca sampai habis yaa guys. Kritik dan saran sangat-sangat dibutuhkan dalam setiap tulisanku. Jangan pernah bosan juga untuk membaca tulisan-tulisan ku yang jarang ini yaa :') Berawal dari tulisanku yang judul nya "Cinta lama belum kelar?" Setelah peristiwa itu,aku mengalami peristiwa yang dinamakan Putus Cinta. Yaps,you know lah gimana rasanya dan galaunya aku. Aku bahkan menyalahkan diriku sendiri dan bahkan gak bisa memaafkan. Setiap berhadapan dengan kaca dan melihat cerminan diriku dibaliknya,aku merasa marah dan bahkan jijik dengan diriku sendiri. Jangan tanya alasannya kenapa,karena yang akan aku bahas bukan itu. Beberapa bulan harus melewati fase-fase itu sampai suatu saat seorang teman menyarankan menggunakan salah satu aplikasi pencaria...

Harapan Terbodoh

Mengapa harus ada perbedaan? Apakah perbedaan itu di ciptakan agar saling melengkapi? Jika jawabannya "ya",mengapa masih banyak yang berselisih paham karena perbedaan tersebut? Mengapa banyak tetesan air mata dan bahkan darah yang mengucur akibat dari perbedaan tersebut? Lelah? Ya aku merasa lelah dengan semuanya. Ingin rasanya ku hentikan waktu sejenak,agar aku bisa bernafas lega dari kesesakan ini. Entahlah. Mungkin itu harapan terbodoh yang aku impikan.